Banner 468 X 60

Kamis, 27 Januari 2011

Dewan Pendidikan Minta Buku SBY Ditarik

Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal meminta peredaran buku profil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disebar di sekolah menengah pertama segera ditarik dari peredaran.

"Itu tak sesuai dengan kurikulum mata pelajaran yang dianjurkan dalam standar ujian nasional," ujar Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal, Muhammad Dimyati, saat ditemui di kantornya, Selasa (25/1).

Menurut Dimyati, peredaran buku yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus ini menyalahi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2010 tentang petunjuk teknis dan pelaksanaan dana alokasi khusus.

"Aturan itu mengatur agar buku yang dibiayai DAK harus sesuai dengan kurikulum yang diujikan secara nasional," ujar Dimyati.

Dimyati menilai keberadaan buku berisi profil Yudhoyono tak layak dibiayai oleh negara karena tak masuk dalam kategori referensi mata pelajaran sekolah. "Semua tokoh boleh menyumbangkan buku biografi ke sekolah dengan biayai sendiri tanpa harus membebankan negara," katanya.

Dimyati juga menyayangkan Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal yang tak menginformasikan instansinya dalam proses lelang pengadaan buku tersebut. Padahal, menurut Dimyati, Dewan Pendidikan yang ia pimpin berkewenangan untuk mengawasi proses pengadaan buku hingga dibentuknya surat keputusan bupati tentang alokasi DAK.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Tegal Waudin, mengaku telah mengeluarkan tim untuk meneliti buku yang telah beredar tersebut.

"Saya telah mengerahkan 10 orang untuk meneliti dan mengambil dari sekolah," ujar Waudin.

Ia tak memungkiri buku yang telah beredar ini akan ditarik bila tak memenuhi standar kebutuhan kurikulum yang diperlukan siswa. Meski begitu, Waudin masih mempertimbangkan karena sedang meneliti isi buku. "Saya siap memberikan masukan agar ditarik bila tak sesuai," katanya.

Waudin mengaku tak bertanggung jawab mengenai buku profil SBY yang telanjur beredar di 87 SMP ini karena penentu spesifikasi buku pemerintah pusat. "Sedangkan penerbit yang menentukan judul," ujar Waudin yang mengaku sedang minta keterangan dari rekanan.

Buku SBY Siap Ditarik

Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Tegal siap menarik buku bergambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari 61 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kabupaten setempat.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dindikpora Kabupaten Tegal Waudin menegaskan, pihak dinas siap menarik buku SBY yang telah didrop kepuluhan SMP bila mana konten buku mengandung muatan politis.

“Kita baca dulu buku tersebut (buku SBY), bila tidak bermanfaat dan mengandung muatan politis kontennya, maka kami akan menariknya,” kata Waudin ditemui di kantornya kemarin.

Hingga saat ini, Dindikopora belum mengetahui bentuk fisik buku SBY, sehingga belum bisa menyimpulkan apakah buku itu layak dikonsumsi siswa atau tidak. Pasalnya, pendistribusian buku SBY dilakukan oleh pihak ketiga atau pemenang lelang yang diadakan pemerintah pusat.

Praktis, lanjut Waudin, baik konten, bentuk fisik, bahkan spesifikasi buku, pihaknya mengaku tidak tahu menahu. Termasuk pengedropan buku SBY ini, dinas juga tidak mengetahuinya.

“Bantuan buku SBY itu memang berasal dari dana bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus) 2010) yang dikemas dalam satu paket, meliputi alat peraga, laboratorium, perpustakaan dan buku,” ungkapnya.

Kepala Seksi Sarana Pendidikan Dindikpora Kabupaten Tegal Cipto Dwi Setyo Purnomo menambahkan, bantuan DAK 2010 diberikan kepada SD dan SMP baik negeri maupun swasta yang masing-masing jumlahnya sekitar 87 sekolah.

“Bentuk bantuan DAK tersebut di antaranya fisik dan buku. Ada sekolah yang hanya menerima fisik saja atau buku saja, dan adapula yang menerima dua-duanya,” jelas Cipto ditemui terpisah.

Dengan rincian DAK yang berbeda, yakni untuk SD yang menerima bantuan ruang pepustakaan 87 SD dengan nilai pagu Rp95.256.000. Ke-87 SD itu juga menerima bantuan buku, sehingga total SD yang menerima bantuan DAK 2010 sekitar 132 SD dengan pagu Rp 95 juta per sekolah.

Ia kembali menuturkan, untuk bantuan DAK tingkat SMP yakni dua sekolah menerima bantuan ruang perpustakaan dengan nilai pagu Rp 171.900.000. Sedang untuk bantuan DAK bentuk buku diterima 87 SMP termasuk dua sekolah penerima bantuan fisik tersebut. “Nilai pagunya Rp 4.500.000,” katanya.

Menanggapi adanya buku SBY, pihak dinas sedianya akan melakukan pengecekan buku SBY ke sekolah, dan pengecekan kejelasan penerbitnya. “Siapa tahu terjadi kesalahan dalam pengepakannya,” pungkas Cipto.

Kepala Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal Dimyati menyimpulkan, dari sebagian buku SBY yang dibacanya, buku tersebut rata-rata berisikan tentang perjalanan hidup Presiden SBY, bahkan adapula yang mengandung unsur politik.

“Isi buku SBY, ada yang menceritakan biografi, dan saya juga menemukan ada isi yang menyinggung soal partainya,” kata Dimyati yang mengaku membawa kelima buku SBY untuk dikaji isinya.

Di antara kelima judul buku itu antara lain Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan karya Hasan Syukur, Jendela Hati karya Sari Pusparini Soleh, Merangkai Kata Mengunatai Nada karya  Bahrudin Supardi, Adil  Tanpa Pandang Bulu karya Arif Supriyono, dan Peduli Kemiskinan karya Anang Solihin Wardan.

Kelima judul buku, kata Dimyati merupakan terbitan dari PT Remaja Rosdakarya Bandung.

“Namun saat ini, sekolah di Kabupaten Tegal belum membutuhkan buku referensi tersebut, melainkan buku-buku pelajaran sekolah,” imbuhnya.

Bahkan dengan sampul buku bergambar karikatur SBY, dinilainya, itu merupakan pelecehan kepada seorang presiden dan juga memberi contoh yang kurang baik bila siswa melihatnya.

Sementara Ketua Komisi 4 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupeten Tegal Wakhidin meminta agar buku SBY jangan ditarik dulu atau lebih baik disimpan sementara di ruang perpustakaan masing-masing sekolah.

“Buku SBY lebih baik disimpan dulu, sambil kami dengan dinas terkait berkoordinasi soal keberadaan buku SBY,” pungkas Wakhidin.(Akrom Hazami/Koran SI/fmh)

PKS Desak Mendiknas Tarik Buku Serial SBY

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendesak Kemendiknas menarik kembali buku serial "Lebih Dekat dengan Presiden SBY" yang diperbantukan di sekolah di Tegal, Jateng. Peredaran buku ini sangat bernuansa politis.

"Saya menemukan buku tersebut pada kunjungan kerja reses bulan ini. Buku terdiri dari 10 seri lebih dekat dengan Presiden SBY. Katanya bantuan pusat menggunakan dana alokasi khusus pendidikan," ujar anggota Komisi X DPR dari FPKS, Rohmani, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/1/2011).

Rohmani menilai keberadaan buku ini sangat mengecewakan DPR. Sebab seolah Presiden SBY sedang menebar aroma kampanye kepada calon pemilih pemula yakni pelajar SMP.

"Kemendiknas harus memprioritaskan kepentingan pendidikan bangsa dibanding kepentingan politik dengan secepatnya menarik peredaran buku tentang SBY yang ditemukan di sejumlah SMP di Kabupaten Tegasl, Jawa Tengah," pinta Rohmani.

Banyak kejanggalan dalam keberadaan buku tersebut. Jika tanpa muatan politis, kenapa hanya Presiden SBY yang dikisahkan dalam buku tersebut. "Buku tersebut bagus namun kenapa hanya Presiden SBY saja yang ditulis bukan presiden lainnya? Buku ini tidak sesuai dengan peruntukannya dan akan sangat
berpotensi menjadi polemik di masyarakat," protesnya.

Ia berharap Mendiknas memahami kepentingan pendidikan di atas kepentingan apapun. Termasuk angan-angan politis dibalik pembagian buku tersebut. "Kemendiknas harus bisa melihat kepentingan pendidikan nasional harus diutamakan. Jangan menyusupkan kepentingan politik dalam dunia pendidikan kita," tandasnya.

Buku SBY di Sekolah Adalah Upaya Pembodohan Bangsa

Pembagian buku tentang sosok, kiprah dan pemikiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di sejumlah SMP di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menuai kritik dari kubu oposisi. Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, menilai pembagian buku itu sebagai upaya pencitraan.

"Hari ini seharusnya tidak ada lagi yang harus dicitrakan untuk kepentingan sesaat," kata Puan.

Hal itu dia sampaikan saat melantik pengurus departemen bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Keagamaan DPP PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (27/1/2011).

Menurut Puan, seharusnya pemerintah memikirkan bagaimana program-programnya bekerja untuk kepentingan rakyat, ketimbang membagikan buku. Terlebih, kata dia, biaya pengadaan buku menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah daerah setempat.

"Mengapa sibuk membagikan buku, sementara harga cabe membumbung tinggi tidak dicari jalan keluarnya," kata putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ini.

Puan menilai, konten dari 10 seri buku tentang SBY yang dibagikan itu juga sangat berat untuk anak SMP, dan bahkan mengandung unsur politis. Ia menduga hal itu berkaitan dengan kepentingan di Pemilu 2014.

"Anak SMP sekarang pada tahun 2014 adalah pemilih pemula yang akan memilih apa yang hari ini dicitrakan," kata dia.

"Jangan pakai uang rayat untuk kemenangan politis di 2014," tegasnya.

Sebelumnya, sepuluh seri buku tentang sosok, kiprah dan pemikiran SBY ditemukan beredar di sejumlah SMP di Kabupaten Tegal, Jateng. Buku-buku tersebut adalah Jendela Hati, Jalan Panjang Menuju Istana, Adil Tanpa Pandang Bulu, Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan, Menata Kembali Kehidupan Bangsa, Peduli Kemiskinan, Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil, Diplomasi Damai, Berbakti untuk Bumi, dan Merangkai Kata Menguntai Nada. Buku-buku itu diterbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Jawa Barat.

Entri Populer